• HOME
  • PUBLIKA
  • Jangan Cuma Hebat di Perkotaan, IPW Tantang Densus 88 Bersihkan Teroris di Papua

Jangan Cuma Hebat di Perkotaan, IPW Tantang Densus 88 Bersihkan Teroris di Papua


Laporan : RMOLNETWORK
Jumat, 30 April 2021 - 10:54

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua/Net

Densus 88 Anti Teror Polri ditantang menunjukkan prestasinya, setelah pemerintah menetapkan Kelompok Kriminal Bersenjata alias KKB Papua sebagai gerakan teroris.

"Minimal sebulan setelah penetapan KKB gerakan teroris, Densus 88 bisa turun ke Papua untuk membersihkan aksi teroris Papua yang meresahkan masyarakat. Paling tidak melokalisir gerakan kelompok teror disana," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane melalui keterangan tertulisnya, Jumat (30/4).

Namun IPW mengingatkan bahwa teroris Papua lebih bengis, lebih terlatih, lebih solid dan lebih canggih persenjataannya ketimbang teroris non Papua.

Neta berpandangan, teroris Papua seakan telah menorehkan fenomena baru dalam sejarah terorisme dimana seorang jenderal bisa terbunuh dalam serangan teroris.

IPW mencatat, gugurnya Kepala BIN Daerah Papua, Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha, pada Minggu (25/4) menjadi sejarah pertama adanya seorang perwira tinggi TNI yang tewas dalam konflik di Papua. 

Kasus tertembaknya Putu Danny ini juga menunjukkan bahwa teroris Papua sepertinya memiliki penembak jitu yang terlatih dengan senjata mumpuni.

Ulah bengis teroris Papua ini terlihat juga dalam sepekan pada Minggu pertama April 2021. Di era itu teroris Papua sudah menewaskan warga dari berbagai kalangan, mulai guru, siswa hingga tukang ojek di Kabupaten Puncak.

Selain itu, teroris Papua juga merusak sekolah dan rumah-rumah warga. Bahkan KKB membakar rumah anggota DPRD di Kampung Beoga, Kabupaten Puncak.

Dari data yang diperoleh IPW, teroris Papua di Distrik Beoga, misalnya, memiliki 30 pucuk senjata api, terdiri dari berbagai merek, mulai dari laras panjang hingga pistol genggam, di antaranya SS1 hingga M16.

Teroris Papua terlihat cukup solid dan terafiliasi hanya pada satu kelompok, yakni Organisasi Papua Merdeka (OPM). 

Kondisi ini berbeda dengan teroris non Papua yang terdiri dari lima kelompok, yakni Negara Islam Indonesia (NII) yang berkembang sejak pasca kemerdekaan Indonesia, Jamaah Islamiyah (JI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), dan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK). 

Sejak Januari hingga Maret, Densus 88 Antiteror sudah berhasil menangkap 94 terduga teroris non Papua. 

Tentunya, setelah pemerintah menetapkan KKB sebagai teroris Papua, publik menunggu gebrakan operasi pencegahan dan penindakan terorisme oleh Densus 88 di Bumi Cenderawasi itu. 

Publik menunggu mampukah Densus 88 menaklukan gunung dan rimba raya tempat persembunyian teroris Papua. 

Selama ini Densus 88 sudah berhasil menjinakan teroris non Papua yang bersembunyi di rumah- rumah kontrakan padat penduduk di perkotaan.

"Medan tempur baru menunggu Densus 88 di Papua," demikian kata Neta.

Diketahui, pemerintah resmi melabeli kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua sebagai teroris.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md mengatakan, pemberian label teroris itu lantaran munculnya beberapa aksi teror di Papua sejak awal April 2021.

"Sejalan dengan itu semua, maka pemerintah menganggap bahwa organisasi dan orang-orang di Papua yang melakukan kekerasan masif, dikategorikan sebagai teroris. Menyatakan melakukan pembunuhan, dan kekerasan secara brutal itu secara massif," ujar Mahfud MD melalui konferensi pers daring pada Kamis (29/4).


EDITOR :